DETAIL WARISAN

Tongkos Bangkalan

Informasi sejarah, filosofi, nilai hidup, ilmu pengetahuan, dan lokasi budaya.

Tongkos Bangkalan
Odheng Tongkosan Bhangkalan
Dokumentasi Odheng Tongkosan (Hal. 1)
Dokumentasi Odheng Tongkosan (Hal. 2)
Dokumentasi Odheng Tongkosan (Hal. 3)
Dokumentasi Odheng Tongkosan (Hal. 4)
Dokumentasi Odheng Tongkosan (Hal. 5)
πŸ” Klik foto untuk perbesar penuh atau pilih foto lainnya di atas
Kerajinan Tradisional

Tongkos Bangkalan

πŸ“
LOKASI

Ds. Tonjung, Kec. Burneh, Kab. Bangkalan, Madura, Jawa Timur, 69171

01
SEJARAH

Odheng Tongkosan Bhiangkalan merupakan penutup kepala tradisional masyarakat Bangkalan, Madura Barat, dan menjadi bagian dari kelengkapan busana aghungan. Bentuk tongkos terinspirasi dari sepasang hewan me’-eme atau belangkas. Pada bentuk fisiknya, bagian kanan dan kiri tongkos, bagian yang menyilang, serta dua ekor di belakang menggambarkan bentuk hewan tersebut. Dalam buku dijelaskan bahwa empat lipatan bagian luar dikaitkan dengan Pangeran Cakraningrat IV, sedangkan lima lipatan bagian dalam dikaitkan dengan Panembahan Cakraadiningrat V. Pada masa dahulu, penggunaan tongkos berkaitan erat dengan kehidupan bangsawan Madura Barat. Tongkos juga menjadi bagian dari aturan pakaian adat. Dalam kelengkapan busana aghungan laki-laki, odheng tongkosan digunakan oleh laki-laki yang sudah menikah, sedangkan sebelum menikah digunakan jenis odheng yang berbeda. Dahulu tongkos berupa kain yang dililitkan di kepala. Dalam perkembangannya, tongkos berubah menjadi bentuk siap pakai. Dengan demikian, perkembangannya dapat dilihat dari bentuk lilitan kain menjadi penutup kepala yang langsung dapat digunakan. Bahan yang digunakan juga mengalami perubahan. Dahulu digunakan kain batik khusus odheng tongkosan dan motif yang banyak dipengaruhi batik Jawa. Sekarang lebih banyak digunakan batik sampΓ¨r dan motif batik Madura, dengan warna yang semakin beragam. Perbandingan bentuk lama dan masa kini juga menunjukkan perubahan pada bagian depan dan ekor tongkos. Pada bentuk lama, bagian depan cenderung agak miring ke belakang dan ekornya lebih panjang, sedangkan pada bentuk sekarang terdapat bentuk yang lebih tegak dengan ekor yang lebih pendek. Perubahan zaman menyebabkan penggunaan tongkos semakin berkembang. Tongkos tidak hanya digunakan dalam lingkungan tertentu, tetapi juga digunakan dalam berbagai kegiatan budaya dan masyarakat. Untuk menjaga bentuk dan nilai tradisionalnya, dilakukan upaya penyusunan pakem tongkos. Pelestarian juga dilakukan oleh para pengrajin, masyarakat, serta Pemerintah Kabupaten Bangkalan. Tongkos digunakan dan diperkenalkan dalam berbagai kegiatan budaya, termasuk Kacong Jhebbhing Bangkalan.

02
FILOSOFI

Odheng Tongkosan Bhiangkalan memiliki filosofi yang berasal dari hewan me’-eme atau belangkas. Bentuk fisik tongkos merupakan stilisasi dari sepasang hewan me’-eme. Hal tersebut terlihat pada bagian kanan dan kiri tongkos yang menyatu di bagian depan, bagian bawah yang bersilang, serta dua ekor di bagian belakang. Hewan mek-eme dipilih karena memiliki sifat dan karakter yang kemudian dimaknai dalam kehidupan manusia. Salah satu makna yang paling kuat adalah kesetiaan, karena me’-eme digambarkan selalu hidup bersama pasangannya. Bentuk tongkos juga memiliki makna filosofis. Bagian depan yang berbentuk seperti gunungan dan bagian kanan-kiri yang seimbang menggambarkan adanya keseimbangan dalam kehidupan. Bagian depan tongkos yang agak miring ke belakang juga dikaitkan dengan sikap rendah hati. Dalam buku dijelaskan pula bahwa beberapa bagian tongkos mempunyai makna khusus. Empat lipatan bagian luar dikaitkan dengan Pangeran Cakraningrat IV, sedangkan lima lipatan bagian dalam dikaitkan dengan Panembahan Cakraadiningrat V. Lima lipatan tersebut juga mengingatkan pada lima waktu salat dan lima Rukun Islam. Tinggi bagian depan tongkos sekitar 9 cm dikaitkan dengan Wali Sanga.

03
NILAI HIDUP
  • βœ“ Nilai religius, Ditunjukkan melalui lima lipatan yang berkaitan dengan lima waktu salat dan lima Rukun Islam serta angka sembilan yang dikaitkan dengan Wali Sanga
  • βœ“ Nilai kebijaksanaan, Mengajarkan seseorang untuk mempertimbangkan tindakan dan mengambil keputusan dengan baik.
  • βœ“ Nilai keteladanan, Pemakai tongkos, khususnya para bangsawan pada masa lalu, diharapkan dapat menjadi teladan.
  • βœ“ Nilai keberanian Menggambarkan keberanian dalam menjalani kehidupan.
  • βœ“ Nilai pelestarian budaya, Tongkos harus tetap dijaga agar bentuk, nilai, dan tradisinya tidak hilang akibat perkembangan zaman.
04
ILMU PENGETAHUAN
  • βœ“ Pengetahuan mengenai Pengetahuan tentang motif batik, Dahulu motif yang digunakan banyak mendapat pengaruh batik Jawa, sedangkan sekarang lebih banyak menggunakan motif batik Madura.
  • βœ“ Pengetahuan mengenai teknik, pembuatan Tongkos dahulu berupa kain yang dililitkan, kemudian berkembang menjadi bentuk siap pakai. Pembuatan tongkos juga menggunakan teknik jahitan.
  • βœ“ Pengetahuan mengenai perkembangan budaya, Tongkos mengalami perubahan bentuk, bahan, motif, warna, dan cara pemakaian dari masa dahulu sampai sekarang.
  • βœ“ Pengetahuan mengenai pelestarian budaya, Buku menjelaskan adanya upaya mempertahankan tongkos melalui pakem, penggunaan dalam kegiatan budaya, serta peran pengrajin dan pemerintah.
Asisten Budaya Siap membantu
Halo! πŸ‘‹ Saya Asisten Budaya DCH Bangkalan. Saya siap membantu Anda dengan informasi khusus seputar 7 Warisan Budaya Takbenda Kabupaten Bangkalan: Topeng Patengteng, Batik Gentongan, Tongkos Bangkalan, Hong Bahong, Sandur Bangkalan, Topa' Ladeh, dan Nase' Serpang. Ada yang ingin Anda tanyakan?