DETAIL WARISAN

Hong Bahong

Informasi sejarah, filosofi, nilai hidup, ilmu pengetahuan, dan lokasi budaya.

Hong Bahong
🔍 Klik foto untuk melihat ukuran penuh
Seni Pertunjukan

Hong Bahong

📍
LOKASI

Ds. Katol Barat, Kec. Geger, Kab. Bangkalan, Madura, Jawa Timur, 69152

01
SEJARAH

Hong Bahhong merupakan kesenian ritual tradisional yang berasal dari Desa Katol Barat, Kecamatan Geger, Kabupaten Bangkalan, Madura. Berdasarkan penelitian Mutmainnah dan Iqbal Nurul Azhar (2022), kesenian ini memiliki akar sejarah yang berkaitan dengan masa peralihan pengaruh agama Hindu menuju Islam di Madura. Hal tersebut terlihat dari penggunaan istilah, syair-syair pujian, serta perlengkapan ritual yang masih mempertahankan unsur kebudayaan lama. Nama Hong Bahhong berasal dari kata Bah yang berarti menyembah, berdoa, atau memuji, sedangkan Hong berarti Tuhan dalam istilah Hindu kuno. Oleh karena itu, Hong Bahhong dimaknai sebagai bentuk pujian terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Dalam sejarah yang diwariskan secara turun-temurun, Hong Bahhong berkaitan dengan seorang tokoh leluhur yang dikenal sebagai Buju Massa. Menurut tradisi masyarakat setempat, Buju Massa dipercaya sebagai tokoh yang mewariskan kesenian tersebut kepada keturunannya. Tradisi ini disebut telah diwariskan hingga generasi ketujuh. Keunikan Hong Bahhong terletak pada ketentuan adat bahwa pembawa syair pujian harus berasal dari keturunan langsung leluhur yang dipercaya menciptakan kesenian tersebut. Masyarakat meyakini bahwa aturan tersebut harus dipatuhi untuk menjaga kesakralan dan keberlangsungan ritual. Sejak dahulu, Hong Bahhong dilaksanakan sebagai bagian dari tradisi masyarakat yang memiliki hajat atau nazar, terutama untuk memohon keselamatan dan perlindungan kepada Tuhan. Pertunjukannya terdiri atas tujuh babak yang dikenal dengan istilah Petto Grabhagan. Salah satu bagiannya adalah Grabhagan Pajuan, yaitu babak yang melibatkan tarian dan pemberian uang secara sukarela oleh masyarakat yang memiliki hajat. Dalam pelaksanaannya terdapat aturan adat, seperti larangan menertawakan jalannya ritual dan ketentuan meminta izin sebelum melakukan dokumentasi. Kelompok Hong Bahhong juga secara tradisional tidak diperbolehkan menetapkan tarif pertunjukan. Seiring perkembangan zaman, Hong Bahhong tetap dipertahankan sebagai warisan budaya masyarakat Kecamatan Geger. Pada tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Bangkalan mengusulkan ritual Hong Bahhong sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia untuk mendukung pelestariannya. Dengan demikian, Hong Bahhong bukan sekadar kesenian tradisional, tetapi juga menjadi bukti sejarah pertemuan budaya Hindu dan Islam, penghormatan terhadap leluhur, serta identitas budaya masyarakat Bangkalan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

02
FILOSOFI

Filosofi Hong Bahhong menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhan, penghormatan kepada leluhur, serta harapan untuk memperoleh keselamatan dan keharmonisan dalam kehidupan. Nama Hong Bahhong berasal dari kata Bah yang berarti menyembah, berdoa, atau memuji, dan Hong yang berarti Tuhan dalam istilah Hindu kuno, sehingga memiliki makna memuji kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Tradisi ini mencerminkan keyakinan masyarakat bahwa manusia memiliki keterbatasan dan senantiasa membutuhkan perlindungan Tuhan. Selain itu, Hong Bahhong mengandung nilai penghormatan kepada leluhur karena pelaksanaan ritual diwariskan secara turun-temurun melalui keturunan Buju yang dipercaya sebagai pencipta kesenian tersebut. Adanya aturan adat, seperti larangan menertawakan jalannya ritual dan kewajiban meminta izin sebelum melakukan dokumentasi, menunjukkan pentingnya menjaga kesakralan serta menghormati kepercayaan masyarakat. Kelompok Hong Bahhong juga tidak diperbolehkan menetapkan tarif pertunjukan, yang dapat dimaknai sebagai simbol ketulusan dan keikhlasan dalam menjalankan tradisi. Di sisi lain, keberadaan unsur kebudayaan Hindu dan Islam memperlihatkan bahwa Hong Bahhong merupakan warisan budaya yang mengalami perpaduan dan kesinambungan nilai dari masa ke masa. Dengan demikian, Hong Bahhong bukan sekadar pertunjukan tradisional, tetapi juga mengandung ajaran tentang religiusitas, keikhlasan, penghormatan terhadap leluhur, kebersamaan, serta tanggung jawab untuk menjaga warisan budaya agar tetap lestari.

03
NILAI HIDUP
  • ✓ Nilai Religius: Mengajarkan manusia untuk selalu berdoa, memuji kebesaran Tuhan Yang Maha Esa, dan memohon keselamatan dalam kehidupan.
  • ✓ Nilai Penghormatan kepada Leluhur: Mengajarkan pentingnya menghargai dan menjaga warisan budaya yang diturunkan oleh nenek moyang.
  • ✓ Nilai Kebersamaan: Mencerminkan hubungan sosial dan keterlibatan masyarakat dalam melaksanakan serta melestarikan tradisi.
  • ✓ Nilai Toleransi Budaya: Mengajarkan sikap saling menghargai terhadap tradisi dan kepercayaan masyarakat, termasuk unsur kebudayaan Hindu dan Islam yang terdapat dalam Hong Bahhong.
  • ✓ Nilai Tanggung Jawab: Mengajarkan generasi penerus untuk menjaga dan melestarikan kesenian Hong Bahhong agar tidak hilang akibat perkembangan zaman.
04
ILMU PENGETAHUAN
  • ✓ Ilmu Sejarah: Memberikan pengetahuan tentang perkembangan kebudayaan masyarakat Bangkalan, khususnya pertemuan pengaruh Hindu dan Islam dalam kesenian tradisional.
  • ✓ Ilmu Agama: Memberikan pemahaman mengenai nilai spiritual melalui doa, pujian kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan permohonan keselamatan dalam pelaksanaan ritual.
  • ✓ Ilmu Sosiologi: Memberikan pengetahuan tentang hubungan sosial masyarakat, keterlibatan warga dalam ritual, serta penghormatan terhadap aturan adat yang berlaku.
  • ✓ Ilmu Seni dan Budaya: Memberikan pengetahuan mengenai seni pertunjukan tradisional yang terdiri atas tujuh babak atau Petto Grabhagan, termasuk bagian Grabhagan Pajuan yang melibatkan gerakan tari.
  • ✓ Ilmu Pendidikan Karakter: Mengajarkan pentingnya sikap sopan santun, menghormati leluhur, menaati aturan adat, menjaga kesakralan ritual, serta bertanggung jawab dalam melestarikan kebudayaan.
Asisten Budaya Siap membantu
Halo! 👋 Saya Asisten Budaya DCH Bangkalan. Saya siap membantu Anda dengan informasi khusus seputar 7 Warisan Budaya Takbenda Kabupaten Bangkalan: Topeng Patengteng, Batik Gentongan, Tongkos Bangkalan, Hong Bahong, Sandur Bangkalan, Topa' Ladeh, dan Nase' Serpang. Ada yang ingin Anda tanyakan?