Sandur Bangkalan
Informasi sejarah, filosofi, nilai hidup, ilmu pengetahuan, dan lokasi budaya.
Sandur Bangkalan
Ds. Parseh, Kec. Socah, Kab. Bangkalan, Madura, Jawa Timur, 69161
Kesenian Sandur merupakan salah satu kesenian tradisional masyarakat Kabupaten Bangkalan, Madura, yang memadukan unsur musik, nyanyian, dan tarian.Berdasarkan penelitian Larasati, Sunjata, dan Wuryansari (2016), kesenian Sandur pada awalnya dikenal dengan nama Salabadhan, yang telah berkembang dalam kehidupan masyarakat Madura sejak puluhan tahun lalu. Istilah Salabadhan berasal dari kata sala yang berarti salah dan badhan yang berarti badan, sehingga memiliki arti βsalah badanβ. Menjelang Pemilihan Umum tahun 1977, nama Salabadhan kemudian berubah menjadi Sandur.Perkembangan kesenian ini semakin terlihat pada tahun 1986 dengan berdirinya kelompok Sandur Sawunggaling yang dipimpin oleh Mad Tikram. Sejak awal perkembangannya, Sandur menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Bangkalan dan sering dipentaskan dalam berbagai acara, seperti pernikahan, khitanan, selamatan, serta kegiatan remoh, yaitu tradisi pertemuan masyarakat yang berkaitan dengan arisan atau penggalangan dana.Pada mulanya, penari Sandur yang disebut lenggek diperankan oleh perempuan, termasuk perempuan yang didatangkan dari Gresik. Namun, menurut penelitian Julijanti, Dartiningsih, dan Fery (2025), keberadaan penari perempuan dalam beberapa pertunjukan pernah menimbulkan gangguan dari penonton hingga memicu keributan.Oleh karena itu, peran lenggek kemudian digantikan oleh laki-laki yang mengenakan kebaya, kain sewek, sanggul, dan riasan menyerupai perempuan. Perubahan tersebut dilakukan untuk mengurangi konflik sekaligus mempertahankan keberlangsungan pertunjukan. Seiring perkembangan zaman, bentuk pertunjukan Sandur juga mengalami penyederhanaan. Menurut Mutmainnah dan Azhar (2022), Sandur yang semula terdiri atas enam babak kemudian menjadi tiga babak utama, yaitu dhing-gendhingan sebagai musik pembuka, dhung-dhung sebagai tarian penyambutan tamu, dan andongan sebagai bagian ketika tamu undangan menari secara bergiliran bersama lenggek. Dalam tradisi remoh, Sandur tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi sarana interaksi sosial, kegiatan arisan, dan simbol kehormatan penyelenggara.Seiring perubahan kehidupan masyarakat, keberadaan Sandur menghadapi tantangan, terutama berkurangnya minat generasi muda untuk mempelajari kesenian tradisional. Mutmainnah dan Azhar (2022) mencatat bahwa pada masa penelitian mereka, kelompok Sandur yang masih bertahan adalah Sandur Sapo Angen.Meskipun demikian, penelitian Layali, Dzikrulloh, dan Mashudi (2026) menunjukkan bahwa kesenian Sandur masih dilestarikan di Kecamatan Klampis, Kabupaten Bangkalan. Selain mempertahankan warisan budaya, pertunjukan Sandur juga memberikan manfaat ekonomi melalui honor seniman serta kegiatan perdagangan dan jasa di sekitar lokasi pertunjukan. Dengan demikian, Sandur merupakan kesenian tradisional yang terus mengalami perubahan bentuk dan fungsi, tetapi tetap menjadi bagian penting dari sejarah, kehidupan sosial, dan identitas budaya masyarakat Bangkalan.
Filosofi kesenian Sandur Bangkalan menggambarkan nilai kebersamaan, gotong royong, penghormatan, kehormatan sosial, serta pelestarian budaya dalam kehidupan masyarakat Madura. Kesenian Sandur bukan hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial, terutama melalui tradisi remoh, yaitu kegiatan pertemuan masyarakat yang memiliki unsur arisan dan penggalangan dana. Dalam pertunjukannya, terdapat tiga babak utama, yaitu dhing-gendhingan sebagai pembukaan melalui alunan musik tradisional, dhung-dhung sebagai tarian penyambutan yang mencerminkan penghormatan kepada tamu, dan andongan sebagai kegiatan menari bersama antara tamu undangan dan penari lenggek yang menggambarkan interaksi serta kebersamaan masyarakat. Selain itu, Sandur memiliki makna kehormatan dan kedudukan sosial karena penyelenggaraan pertunjukan dalam tradisi remoh berkaitan dengan harga diri serta prestise penyelenggara. Perubahan peran penari lenggek dari perempuan menjadi laki-laki juga mencerminkan kemampuan masyarakat dalam menyesuaikan tradisi dengan kondisi sosial agar kesenian tetap berlangsung. Sandur juga mengandung nilai kreativitas dan tanggung jawab dalam menjaga warisan leluhur melalui keterampilan bermusik, menyanyi, dan menari yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Dengan demikian, filosofi Sandur Bangkalan mencerminkan pentingnya menjaga hubungan antarmanusia, saling menghormati, mempertahankan kebersamaan, serta melestarikan identitas budaya masyarakat Madura di tengah perkembangan zaman.
- Nilai Gotong Royong: Mengajarkan pentingnya bekerja sama dan saling membantu dalam kehidupan bermasyarakat, seperti dalam penyelenggaraan pertunjukan Sandur dan tradisi remoh.
- Nilai Kebersamaan: Mencerminkan hubungan sosial yang erat melalui kegiatan berkumpul, menari bersama, dan berinteraksi dalam pertunjukan Sandur.
- Nilai Saling Menghormati: Mengajarkan pentingnya menghargai orang lain, terutama melalui tarian penyambutan tamu dalam babak dhung-dhung.
- Nilai Solidaritas Sosial: Menggambarkan kepedulian dan dukungan antarmasyarakat melalui tradisi remoh yang berkaitan dengan kegiatan arisan dan penggalangan dana.
- Nilai Toleransi dan Menghargai Perbedaan: Mengajarkan pentingnya menghargai pelaku kesenian, termasuk penari lenggek laki-laki yang sering menghadapi pandangan negatif dari sebagian masyarakat.
- Nilai Kreativitas: Mengajarkan kemampuan mengekspresikan diri melalui keterampilan memainkan musik tradisional, menyanyi, menari, serta mengembangkan pertunjukan seni.
- Ilmu Sejarah: Memberikan pengetahuan tentang asal-usul kesenian Sandur yang sebelumnya dikenal sebagai Salabadhan, perubahan namanya menjelang tahun 1977, serta perkembangan kesenian tradisional masyarakat Bangkalan dari masa ke masa.
- Ilmu Seni Musik: Memberikan pengetahuan tentang penggunaan alat musik tradisional, seperti gamelan, serta irama dan lagu-lagu berbahasa Madura yang digunakan untuk mengiringi pertunjukan Sandur.
- Ilmu Seni Tari: Memberikan pengetahuan mengenai gerakan tari tradisional yang dibawakan oleh penari lenggek, termasuk tarian penyambutan tamu dalam babak dhung-dhung dan tarian bersama tamu dalam babak andongan.
- Ilmu Sosiologi: Memberikan pemahaman tentang hubungan sosial masyarakat Madura melalui tradisi remoh, kegiatan arisan, interaksi antarmasyarakat, serta kedudukan sosial penyelenggara pertunjukan Sandur.
- Ilmu Antropologi Budaya: Memberikan pengetahuan tentang adat istiadat, identitas budaya, serta perubahan peran penari lenggek dari perempuan menjadi laki-laki sebagai bentuk penyesuaian kesenian terhadap kondisi sosial masyarakat.
Video Dokumentasi Sandur Bangkalan
Dokumentasi rekaman video kesenian dan tradisi warisan budaya Sandur Bangkalan di Kabupaten Bangkalan.
Sandur Bangkalan
Dokumentasi pementasan kesenian tradisional Sandur Bangkalan yang memadukan alunan gamelan, nyanyian, dan tarian lenggek.
Galeri Sandur Bangkalan
Koleksi foto dokumentasi, ragam motif, dan arsip visual budaya untuk Sandur Bangkalan. Klik foto untuk melihat ukuran penuh tanpa terpotong.
Pertunjukan Kesenian Sandur Bangkalan
Dokumentasi pertunjukan Sandur memadukan musik gamelan, tarian lenggek, dan interaksi tamu.